PRADANA MEDIA

JUJUR, TEPAT DAN TERPERCAYA

EKONOMI NASIONAL

Uang Hijau Kembali Diputar: Ambisi Besar, Tantangan Lama di Balik Skema SUSTAINABILITAS

Bagikan Berita

Jakarta, Pradanamedia – Platform SUSTAINABILITAS kembali menghidupkan skema pembiayaan proyek ramah lingkungan, menggandeng Global Alliance for a Sustainable Planet. Langkah ini mengulang pola lama: mendorong investasi hijau lewat pendanaan jangka panjang untuk sektor energi, pertanian, hingga pengendalian deforestasi.

Skema ini sebenarnya bukan barang baru. Sejak 2016, konsep serupa sudah diperkenalkan. Bedanya, kini dibungkus dengan narasi yang lebih besar—transisi menuju ekonomi hijau dan target net zero. Pertanyaannya bukan lagi pada ide, tapi pada eksekusi.

Di atas kertas, perannya luas. Mulai dari riset, penyusunan kebijakan, hingga menjembatani investasi dan kemitraan. Direktur William Sabandar menyebut platform ini sebagai “rumah” bagi berbagai inisiatif—dari pelaku bisnis hingga komunitas. Artinya, semua dikumpulkan dalam satu ekosistem.

Namun pola seperti ini bukan tanpa risiko. Ketika terlalu banyak fungsi ditumpuk dalam satu platform, batas antara kajian, kepentingan bisnis, dan kebijakan bisa menjadi kabur.

Di sisi lain, Satya Tripathi melihat Indonesia sebagai lahan besar untuk ekonomi hijau. Dengan cadangan karbon yang disebut mencapai ratusan juta ton, peluangnya terbuka lebar. Tapi peluang itu datang bersamaan dengan beban: bagaimana memastikan eksploitasi “nilai hijau” tidak berhenti di angka-angka proyeksi.

Narasi net zero 2030 juga kembali diangkat. Target ambisius yang membutuhkan lebih dari sekadar komitmen—ia butuh disiplin implementasi, sesuatu yang selama ini kerap jadi titik lemah.

Sementara itu, Sudirman Said menyoroti sisi lain: institusi. Menurutnya, ide tanpa wadah hanya akan berhenti sebagai wacana. Tapi di konteks ini, justru muncul pertanyaan lanjutan—apakah institusi yang dibangun benar-benar mendorong aksi, atau sekadar memperpanjang rantai birokrasi?

Skema pembiayaan ini memang diarahkan ke proyek yang bersentuhan langsung dengan masyarakat—energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, dan pengelolaan lingkungan. Tapi pengalaman sebelumnya menunjukkan, jalur dari pendanaan ke dampak nyata seringkali tidak lurus.

Di titik ini, peluncuran kembali SUSTAINABILITAS lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia membuka ulang satu isu lama: Indonesia punya potensi besar di ekonomi hijau, tapi konsistensi eksekusi masih jadi pekerjaan rumah yang belum selesai. (AK)


Bagikan Berita

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *