
Sampit, Pradanamedia – Dugaan permainan dalam distribusi bahan bakar minyak (BBM) kembali mencuat. Kali ini, sorotan datang dari Akhyannoor yang mengungkap temuan mencurigakan di lapangan: satu kendaraan disebut bisa mengantongi hingga lima sampai tujuh barcode untuk mengisi BBM di SPBU.
Jika benar terjadi, praktik ini bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan indikasi adanya celah serius dalam sistem pengawasan distribusi BBM subsidi. Skema barcode yang seharusnya menjadi alat kontrol justru diduga dimanipulasi untuk memperbanyak kuota pengisian, membuka ruang bagi praktik pelangsiran yang selama ini sulit diberantas.
Akhyannoor menegaskan, kondisi tersebut tidak bisa dianggap remeh. Ia menyebut praktik semacam ini berpotensi langsung merugikan masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada BBM subsidi untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika satu kendaraan bisa “mengakali” sistem dengan banyak barcode, maka distribusi menjadi tidak adil dan rawan diselewengkan.Sorotan pun diarahkan ke Pertamina sebagai pihak yang mengelola distribusi BBM. Ia meminta agar perusahaan tidak menutup mata terhadap temuan di lapangan dan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang ada.
Kasus ini sekaligus menguatkan dugaan bahwa persoalan BBM subsidi bukan hanya soal distribusi, tetapi juga tentang bagaimana teknologi pengawasan bisa disalahgunakan. Tanpa penguatan sistem dan pengawasan yang ketat, celah seperti ini berpotensi terus dimanfaatkan oleh oknum untuk meraup keuntungan.
Di tengah tekanan kebutuhan energi masyarakat, praktik pelangsiran bukan hanya soal bisnis ilegal—melainkan cerminan lemahnya kontrol yang memberi ruang bagi permainan di balik layar. (AK)





