PRADANA MEDIA

JUJUR, TEPAT DAN TERPERCAYA

LOKAL PEMERINTAHAN

Rp50 Miliar untuk Karhutla Kalteng: Api Belum Padam, Sumber Air Mulai Mengering

Bagikan Berita

PALANGKA RAYA, PRADANAMEDIA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyiapkan anggaran sekitar Rp50 miliar untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026. Dana yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi (DBHDR) tersebut diarahkan untuk mendukung operasi pemadaman, pengadaan kendaraan roda tiga bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) hingga berbagai peralatan penanggulangan kebakaran.

Kepala Dinas Kehutanan Kalteng, Agustan Saining, menyebut anggaran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla. Namun persoalannya tidak berhenti pada berapa besar anggaran yang digelontorkan. Yang jauh lebih penting adalah sejauh mana anggaran tersebut mampu menjawab persoalan di lapangan ketika api mulai muncul, terutama di wilayah yang aksesnya sulit dan minim sumber air.

Dishut Kalteng juga mulai memperkuat infrastruktur sumber air dengan membangun sekitar 10 sumur bor secara swadaya di sejumlah kawasan rawan, di antaranya Tumbang Nusa, Kameloh, Kameloh Baru dan Sampit. Langkah ini dilakukan menyusul mulai mengeringnya sejumlah embung dan sumber air yang selama ini menjadi tumpuan pemadaman.

Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan mobilisasi personel ketika api sudah membesar. Ketersediaan air, peralatan, akses menuju titik api, hingga kesiapan kelompok masyarakat di tingkat paling bawah harus dipastikan sebelum musim kebakaran mencapai puncaknya.

Agustan menegaskan, karhutla bukan semata persoalan pemerintah, TNI dan Polri. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah sekaligus menangani kebakaran.

Tugas penanggulangan karhutla bukan hanya tugas pemerintah, TNI-Polri. Itu tugas semua elemen masyarakat.

Pernyataan tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai ajakan. Dengan anggaran puluhan miliar rupiah, publik tentu berhak melihat seberapa siap peralatan ditempatkan di lapangan, bagaimana pemeliharaannya, seberapa cepat respons ketika titik api muncul, dan apakah masyarakat di wilayah rawan benar-benar memiliki sarana yang memadai.

Sebab karhutla di Kalteng bukan kejadian baru. Ia berulang hampir setiap tahun. Karena itu, ukuran keberhasilan bukan hanya berapa banyak api yang berhasil dipadamkan, tetapi seberapa jauh kebakaran dapat dicegah sebelum berubah menjadi bencana asap dan kerusakan lingkungan.

Rp50 miliar adalah angka besar. Tantangannya kini bukan sekadar menghabiskan anggaran, melainkan memastikan setiap rupiah benar-benar berubah menjadi kesiapan, peralatan yang berfungsi, sumber air yang tersedia dan respons cepat di titik rawan. (AK)


Bagikan Berita

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *