
PALANGKA RAYA, PRADANAMEDIA – Kabut asap pekat kembali mengganggu aktivitas masyarakat di Kalimantan Tengah. Kali ini, dampaknya terasa langsung di sektor penerbangan setelah jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, turun drastis akibat kabut asap karhutla.
Kondisi tersebut membuat empat penerbangan yang dioperasikan Lion Air dan Batik Air pada Selasa (6/10/2026) terpaksa dibatalkan. Jarak pandang yang hanya berada di kisaran 150 hingga 300 meter dinilai terlalu rendah untuk mendukung keselamatan penerbangan.
Humas Bandara Tjilik Riwut, Andi Wiguna, menyebut kondisi jarak pandang terburuk terjadi sekitar pukul 10.00 hingga 10.30 WIB. Kabut asap yang menebal membuat jarak pandang berada jauh di bawah ambang aman operasional penerbangan.
Pembatalan penerbangan ini menjadi gambaran nyata bahwa karhutla bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika asap menutup jarak pandang, dampaknya merembet ke berbagai aktivitas masyarakat, termasuk konektivitas udara yang menjadi salah satu jalur penting mobilitas dari dan menuju Palangka Raya.
Situasi tersebut juga menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya berorientasi pada pemadaman titik api. Pengendalian sumber asap dan pencegahan perlu dilakukan secara lebih serius agar dampaknya tidak terus meluas hingga mengganggu transportasi, perekonomian, kesehatan masyarakat, dan aktivitas sosial.
Dengan kondisi jarak pandang yang sempat anjlok hingga 150 meter, keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama. Operasional penerbangan pada akhirnya harus mengikuti kondisi cuaca dan standar keselamatan yang berlaku.
Kabut asap yang kembali mengganggu penerbangan menjadi sinyal bahwa ancaman karhutla masih perlu mendapat perhatian serius, terutama ketika dampaknya mulai menyentuh sektor pelayanan publik dan mobilitas masyarakat secara langsung. (Red)










