OMC Kembali Terbang, 4,8 Ton Garam Ditebar di Langit Kalteng dan Kalsel untuk Tekan Karhutla

PRADANAMEDIA l PALANGKA RAYA – Upaya menekan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) terus dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pada Senin, 26 Oktober 2026, pesawat A-1328 dari Lanud Sam kembali menjalankan misi penyemaian awan dengan membawa 4.800 kilogram natrium klorida (NaCl) atau garam sebagai bahan semai.
Penerbangan tersebut menyasar wilayah udara Kalteng dan Kalsel, dengan area operasi pada radial 300 hingga 030 derajat, dalam rentang jarak 60–200 nautical miles (NM). Pesawat terbang dengan haluan 330 derajat dari Lanud Sam pada ketinggian 11.000–13.000 kaki.
Berdasarkan laporan penerbangan, mesin pesawat mulai beroperasi pada pukul 14.57 WITA, kemudian lepas landas dari Lanud Sam pada pukul 15.12 WITA. Penerbangan dijadwalkan kembali tiba di Lanud Sam pada pukul 18.12 WITA.
Misi OMC ini dilaksanakan oleh tiga awak penerbang, yakni Mayor Pnb Banu, Kapten Pnb Anggi, dan Letnan Dua Pnb Eka. Kegiatan tersebut turut melibatkan flight scientist Ari dan Dian L, serta observer Hadianto dan Ridho.
Penyemaian awan menjadi salah satu langkah yang ditempuh untuk mendukung upaya penanganan karhutla, terutama ketika kondisi cuaca dan atmosfer memungkinkan dilakukannya modifikasi cuaca. Namun, efektivitas kegiatan ini bergantung pada ketersediaan awan yang sesuai dan kondisi atmosfer di wilayah sasaran.
Operasi ini menjadi bagian dari upaya penanganan karhutla di tengah tantangan musim kering yang berdampak pada kerawanan kebakaran lahan di sejumlah wilayah Kalimantan.

Meski demikian, pelaksanaan OMC tidak serta-merta menjamin hujan akan turun secara merata di seluruh wilayah sasaran. Pemantauan kondisi cuaca dan evaluasi hasil operasi tetap diperlukan untuk mengetahui dampak penyemaian terhadap peluang terjadinya hujan.
Dengan membawa 4,8 ton bahan semai dalam sortie tersebut, operasi modifikasi cuaca kembali menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. (AK)











