
Jakarta, Pradanamedia – Persib Bandung memasuki fase paling menentukan musim dengan tekanan yang kian menebal. Menjamu PSIM Yogyakarta pada pekan ke-31 BRI Super League 2025/2026, laga di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Senin sore (4/5), bukan sekadar pertandingan biasa—ini adalah ujian mental sekaligus peluang memperlebar jarak di jalur juara.
Kemenangan 4-2 atas Bhayangkara Presisi Lampung FC di laga sebelumnya memang menghidupkan kembali napas Persib setelah sempat tersendat lewat dua hasil imbang. Hasil itu juga mengantar mereka kembali ke puncak klasemen, meski posisi tersebut masih rapuh karena Borneo FC Samarinda terus membayangi dengan poin identik.
Namun, situasi di atas kertas tak sepenuhnya menggambarkan kenyataan di lapangan. GBLA yang selama ini dikenal angker sempat “retak” setelah Persib gagal menang saat menjamu Arema. Meski demikian, catatan 14 kemenangan dari 15 laga kandang tetap menunjukkan dominasi yang belum benar-benar runtuh.
Di sisi lain, PSIM datang bukan tanpa beban. Tujuh laga tanpa kemenangan menjadi sinyal krisis yang belum terurai. Produktivitas tumpul dan performa tandang yang inkonsisten membuat Laskar Mataram lebih sering jadi penonton dalam perebutan poin. Tapi justru di titik inilah potensi kejutan kerap lahir.
Pelatih Persib, Bojan Hodak, tampaknya tak ingin terjebak dalam asumsi dangkal. Ia melihat PSIM sebagai tim dengan struktur permainan yang rapi dan sulit ditembus. Statistik mendukung pernyataan itu—kekalahan mereka kerap terjadi dengan margin tipis, menandakan pertahanan yang tak mudah runtuh meski diserang terus-menerus.
Persib sendiri tak turun dengan kekuatan penuh. Absennya Uilliam Barros karena akumulasi kartu memaksa perubahan komposisi lini depan. Sejumlah nama seperti Ramon Tanque, Berguinho, hingga Beckham Putra Nugraha dan Saddil Ramdani diproyeksikan menjadi tumpuan dalam membongkar pertahanan lawan.
Masalah lain yang mengintai adalah disiplin. Beberapa pemain inti Persib berada di ambang sanksi akumulasi kartu, yang bisa berdampak serius mengingat laga berikutnya menghadirkan duel panas kontra Persija Jakarta.
Dari kubu PSIM, kembalinya Ezequiel Vidal memberi sedikit angin segar. Meski begitu, kondisi fisik beberapa pemain masih abu-abu, membuat komposisi tim belum sepenuhnya ideal.
Pertemuan pertama musim ini berakhir imbang 1-1—hasil yang menunjukkan bahwa Persib tak benar-benar superior atas PSIM. Fakta ini mempertegas bahwa laga di Bandung berpotensi berjalan lebih ketat dari yang dibayangkan.
Dengan empat pertandingan tersisa, ruang kesalahan nyaris tak ada. Bagi Persib, ini bukan lagi soal bermain bagus atau buruk, tapi tentang menjaga konsistensi di tengah tekanan. Sementara bagi PSIM, laga ini bisa menjadi titik balik—atau sekadar memperpanjang daftar hasil tanpa kemenangan. (AK)





