PRADANA MEDIA

JUJUR, TEPAT DAN TERPERCAYA

LOKAL PENDIDIKAN

Bukan Sekadar Air: UPR Kembangkan Konsentrat Sabun untuk Jinakkan Karhutla di Lahan Gambut

Bagikan Berita

PALANGKA RAYA, PRADANAMEDIA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah kembali mendapat sentuhan teknologi. Universitas Palangka Raya (UPR) mengembangkan konsentrat sabun ramah lingkungan yang dirancang untuk membantu mempercepat proses pemadaman, termasuk ketika api berkobar di kawasan gambut.

Teknologi tersebut dikembangkan UPR melalui kerja sama dengan Shabondama Jepang. Konsentrat digunakan dengan mencampurkannya ke dalam air sekitar satu persen sebelum kemudian disemprotkan ke area yang terbakar.Kepala UPA Gambut UPR, Dr. Adi Jaya, menyebut teknologi itu telah digunakan dalam sejumlah pengalaman di lapangan dan dinilai membantu proses pemadaman. Bahkan, penerapannya tidak hanya untuk kebakaran di permukaan tanah, tetapi juga diarahkan menghadapi karakter kebakaran lahan gambut yang selama ini dikenal sulit ditangani.

Namun, di balik inovasi tersebut masih ada persoalan yang harus dibereskan.Produk konsentrat saat ini masih diproduksi di Jepang. Artinya, kebutuhan untuk penggunaan di Indonesia masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Proses pembuatannya sendiri membutuhkan waktu sekitar dua minggu, belum ditambah waktu pengiriman menuju Indonesia.Kondisi itu menjadi salah satu pekerjaan rumah UPR jika teknologi tersebut nantinya ingin digunakan secara lebih luas dalam penanganan karhutla.

UPR kini tengah mengupayakan pemenuhan Standar Nasional Indonesia (SNI) agar produk tersebut dapat diproduksi di dalam negeri. Formulasi dan teknologinya disebut telah tersedia, sementara tantangan berikutnya adalah membangun sistem produksi serta memastikan penerapannya benar-benar siap digunakan di lapangan.Dua Cara, Satu PersoalanPengembangan teknologi tidak berhenti pada produk. UPR juga menguji cara paling efektif untuk mencampurkan konsentrat dengan air.

Metode pertama dilakukan dengan mencampurkan konsentrat ke dalam air di embung atau tempat penampungan. Setelah larutan tercampur, air dipompa dan diarahkan menggunakan selang menuju titik api.Cara ini dapat diterapkan, tetapi membutuhkan tahapan tambahan. Air harus lebih dulu ditampung dan dicampur sebelum kembali dipompa menuju lokasi kebakaran.

Metode kedua menggunakan sistem inline, yakni konsentrat langsung bercampur dengan air ketika dialirkan melalui selang menuju nozzle.

Secara operasional, sistem ini lebih ringkas. Petugas tidak perlu melakukan pencampuran di tempat penampungan terlebih dahulu.Tetapi teknologi tersebut belum sepenuhnya bebas masalah.

Dalam sejumlah uji coba, UPR masih menemukan persoalan berupa aliran balik air menuju galon konsentrat. Kondisi tersebut membuat sistem inline masih harus disempurnakan agar pencampuran berjalan stabil dan kadar konsentrat tetap sesuai kebutuhan.

Dr. Adi Jaya mengatakan evaluasi terus dilakukan, terutama menyangkut kestabilan pencampuran, pengendalian konsentrasi dan kemudahan pengoperasian ketika teknologi tersebut diterapkan di tengah kondisi kebakaran.

Dari Kampus untuk Medan KarhutlaPengembangan konsentrat ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak semata-mata soal menambah jumlah personel atau memperbanyak armada pemadam.

Karakter kebakaran gambut yang dapat merambat di bawah permukaan membutuhkan pendekatan berbeda. Karena itu, teknologi pendukung menjadi bagian penting untuk diuji, dievaluasi dan disesuaikan dengan kondisi lapangan.

UPR kini menghadapi dua target sekaligus: memastikan teknologi tersebut benar-benar efektif saat digunakan dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Jika proses SNI dan produksi dalam negeri berhasil diwujudkan, konsentrat tersebut tidak lagi sekadar produk yang didatangkan dari Jepang. Teknologi itu berpeluang menjadi salah satu perangkat pendukung pemadaman karhutla yang dapat disiapkan lebih cepat sesuai kebutuhan di Kalimantan Tengah.

Sebab, dalam situasi karhutla, persoalannya bukan hanya seberapa kuat api menyala, tetapi seberapa cepat teknologi dan sumber daya tersedia ketika api mulai menjalar. (AK)


Bagikan Berita

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *