PRADANA MEDIA

JUJUR, TEPAT DAN TERPERCAYA

EKONOMI LOKAL SOSIAL BUDAYA

31 RIBU TITIK PANAS DI BEKAS FOOD ESTATE KALTENG, ALARM KARHUTLA MAKIN KERAS

Bagikan Berita

PALANGKA RAYA l PRADANAMEDIA — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah belum menunjukkan tanda untuk diabaikan. Data pemantauan titik panas periode 1–14 September 2026 menunjukkan Kalteng menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi di Indonesia, mencapai 77.311 titik.

Yang lebih menyita perhatian, sekitar 31.022 titik panas atau 40,1 persen dari jumlah tersebut terdeteksi di kawasan bekas proyek Food Estate Kalteng. Konsentrasi tertinggi tercatat di Blok C dengan 18.082 titik panas.

Angka tersebut tentu bukan perkara kecil.Apalagi secara nasional, pada periode yang sama tercatat 139.378 titik panas. Artinya, Kalteng menyumbang sekitar 55 persen dari seluruh deteksi hotspot nasional. Bersama Kalimantan Barat, yang mencatat 31.595 titik, kedua provinsi menyumbang sekitar 78 persen hotspot nasional.

Bekas Food Estate Kembali Jadi Sorotan

Puluhan ribu titik panas yang terkonsentrasi di kawasan bekas Food Estate menghadirkan pertanyaan yang tidak bisa berhenti pada urusan pemadaman.

Bagaimana kondisi lahan di kawasan tersebut?Bagaimana sistem pengawasan dan pencegahannya?Dan yang lebih penting, mengapa titik panas dalam jumlah besar kembali terkonsentrasi di wilayah yang memiliki sejarah pengembangan Food Estate?Pertanyaan tersebut penting karena kawasan Food Estate di Kalteng berada antara lain di wilayah Kapuas dan Pulang Pisau, kawasan yang juga memiliki bentang lahan gambut yang rentan terhadap kebakaran.

Namun, satu hal harus ditegaskan: titik panas bukan otomatis berarti kejadian kebakaran. Kementerian Kehutanan menjelaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit. Satu kejadian kebakaran juga dapat menghasilkan lebih dari satu titik panas. Karena itu, temuan satelit harus dilanjutkan dengan pengecekan lapangan.Data Ada, Tinggal Seberapa Serius DitindaklanjutiSiPongi+ Kementerian Kehutanan memang menyediakan pemantauan hotspot berdasarkan satelit serta tingkat kepercayaan. Kategori high confidence berada pada tingkat 80–100 persen, sedangkan tingkat medium dan low tetap membutuhkan verifikasi lebih lanjut.

Kementerian Kehutanan juga mencatat bahwa pada 7 September 2026, terdapat 46 hotspot tingkat kepercayaan tinggi di Kalteng dalam pemantauan enam provinsi prioritas. Data ini menunjukkan bahwa pemantauan dilakukan secara dinamis dan kondisi hotspot dapat berubah dari waktu ke waktu.

Persoalannya, data tidak boleh berhenti menjadi angka di layar.Jika sebuah kawasan berulang kali menunjukkan konsentrasi hotspot tinggi, maka verifikasi lapangan, pemetaan lokasi, pemeriksaan kondisi gambut, pengawasan aktivitas lahan dan penelusuran penyebab kebakaran harus menjadi satu rangkaian tindakan. Sebab membakar api setelah kebakaran terjadi adalah langkah terakhir.

Mencegah api muncul kembali di lokasi yang sama adalah pekerjaan yang jauh lebih penting.Jangan Hanya Kejar Api, Bongkar Akar Masalah

Karhutla Kalteng selama ini bukan sekadar persoalan cuaca panas dan lahan kering. Kondisi ekosistem gambut, tata kelola lahan, aktivitas pembukaan lahan, sistem pengawasan hingga kesiapsiagaan di tingkat tapak semuanya harus diperiksa secara serius.

Data 31.022 titik panas di bekas kawasan Food Estate setidaknya menjadi alarm untuk melakukan evaluasi lebih dalam.Bukan untuk buru-buru menunjuk siapa yang bersalah.Tetapi untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Jika hasil verifikasi membuktikan adanya kebakaran, maka penyebabnya harus ditelusuri. Jika ditemukan pelanggaran, penegakan hukum harus berjalan. Jika persoalannya berada pada tata kelola lahan, maka kebijakan harus dievaluasi.

Karena karhutla tidak akan selesai hanya dengan menghitung hotspot.Kalteng membutuhkan jawaban atas satu pertanyaan besar: mengapa api terus menemukan ruang untuk muncul kembali?Catatan: angka 31.022 merupakan hasil analisis sebaran titik panas periode 1–14 September 2026 pada kawasan bekas Food Estate. Hotspot merupakan deteksi satelit dan bukan otomatis jumlah kejadian kebakaran; kepastian kondisi di lapangan tetap membutuhkan verifikasi lapangan. (AK)


Bagikan Berita

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *