
Palangka Raya, Pradanamedia – Aula Jayang Tingang mendadak riuh. Ratusan kepala desa dari pelosok Kalimantan Tengah berkumpul bukan untuk membahas dana desa, melainkan sebuah ancaman baru yang senyap namun mematikan: radikalisme digital.
Jarum jam baru saja melewati angka sembilan pagi ketika Aula Jayang Tingang di kompleks Kantor Gubernur Kalimantan Tengah mulai dipadati pria dan wanita berbatik resmi. Kamis, 11 Juni 2026, sebanyak 450 Kepala Desa dan jajaran perangkat desa dari seluruh penjuru Bumi Tambun Bungai duduk merapat. Mereka hadir memenuhi undangan Rapat Kerja Daerah dan Dialog Interaktif Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kalimantan Tengah.
Namun, agenda kali ini tak biasa. Di podium, tim Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Kalimantan Tengah sudah bersiap. Mereka hadir bukan membawa program pembangunan fisik, melainkan sebuah “vaksin” ideologis.
Tema yang diusung pun berbobot berat: Strategi Pencegahan Paham IRET dan Nihilisme/TCC guna mewujudkan keamanan dan kedamaian di Bumi Tambun Bungai.
Berburu di Ruang Digital
Di era algoritma, medan pertempuran melawan radikalisme telah bergeser. Jika dulu indoktrinasi dilakukan lewat pengajian gelap di ruang-ruang tertutup, kini ia menyusup langsung ke kamar-kamar remaja melalui layar gawai. Fenomena inilah yang dikupas tuntas oleh Iptu Ganjar Satriyono, S.Sos., MAP., bersama timnya, Brigpol Vanda Egi dan Briptu Mahendri.
“Kita tidak hanya bicara soal terorisme konvensional. Ada ancaman baru yang bergerak di ruang digital kita: paham Nihilisme dan kelompok True Crime Community (TCC),” ujar Iptu Ganjar di hadapan ratusan pasang mata peserta.
Nihilisme—sebuah pandangan yang menolak nilai-nilai moral, otoritas, hingga makna hidup—kini kerap berkelindan dengan komunitas pencinta kisah kriminalitas ekstrem (True Crime Community). Di jagat maya, batas antara rasa penasaran dan glorifikasi terhadap kekerasan menjadi sangat tipis. Kelompok-kelompok ini, menurut Satgaswil, kerap memanfaatkan kerentanan psikologis generasi muda untuk menyebarkan propaganda yang merusak tatanan sosial.
Vaksinasi Ideologi dan Deteksi Dini
Bagi Satgaswil Kalteng, para kepala desa adalah “jenderal lapangan” yang paling tahu denyut nadi masyarakat. Oleh karena itu, dalam pemaparannya, Iptu Ganjar memberikan pembekalan taktis mengenai indikator awal atau ciri-ciri penyebaran paham radikal di lingkungan desa.
“Kepala desa adalah ujung tombak. Deteksi dini dimulai dari lingkungan terkecil,” tegas Ganjar. Ia meminta para aparatur desa tidak abai dan aktif mengedukasi warga agar peka terhadap perubahan perilaku anak-anak mereka yang mencurigakan—terutama mereka yang mulai menarik diri dari lingkungan sosial namun sangat aktif di komunitas daring yang menyimpang.
Selain memberikan formula deteksi dini, Satgaswil secara khusus mengampanyekan pentingnya literasi digital di tingkat desa. Di tengah banjir informasi, masyarakat pedesaan kerap menjadi sasaran empuk konten hoaks dan propaganda bermuatan radikal yang sengaja dirancang untuk memicu polarisasi.
Kolaborasi dari Akar Rumput
Sesi dialog interaktif yang dibuka setelah pemaparan materi langsung disambut antusias. Berbagai pertanyaan, kekhawatiran, sekaligus komitmen terlontar dari para kepala desa yang hadir. Bagi mereka, materi ini menjadi pembuka mata bahwa ancaman terhadap kedamaian Kalimantan Tengah tidak lagi berwujud fisik, melainkan digital.
Melalui rakerda ini, sebuah kesepahaman baru lahir. Upaya menjaga keamanan Kalteng tidak bisa lagi dibebankan hanya pada pundak aparat kepolisian. Perlu ada kolaborasi erat antara Satgaswil dan seluruh jajaran pemerintah desa untuk membangun daya tahan (immunitas) masyarakat dari paparan paham IRET, Nihilisme, maupun TCC.
Saat matahari mulai meninggi di atas Palangka Raya dan acara berakhir, 450 pemimpin desa itu pulang membawa oleh-oleh penting: sebuah tanggung jawab baru untuk menjaga benteng digital di desa mereka masing-masing, demi memastikan Bumi Tambun Bungai tetap menjadi rumah yang aman dan damai. (AK)






