Remaja Kalteng Terpantau Masuk Forum Radikal di Dunia Maya, Aparat Soroti Ancaman IRET

Palangka Raya, Pradanamedia – Penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) di era digital menjadi perhatian aparat keamanan. Di Kalimantan Tengah, sejumlah remaja di beberapa daerah terpantau bergabung dalam forum komunikasi daring yang mengandung muatan paham radikal.
Hal tersebut disampaikan Iptu Ganjar Satrio selaku Katim Pencegahan Satgaswil Kalimantan Tengah Densus 88 Antiteror Polri saat mengulas perkembangan ancaman IRET di wilayah Kalimantan Tengah. Menurutnya, ruang digital kini menjadi media yang paling sering dimanfaatkan untuk menyebarkan berbagai narasi yang berpotensi memengaruhi cara pandang generasi muda.
“Beberapa remaja di sejumlah daerah terdeteksi tergabung dalam grup WhatsApp maupun forum komunikasi tertutup yang berisi konten-konten bernuansa radikal. Ini menjadi perhatian bersama karena proses penyebarannya saat ini banyak terjadi melalui dunia maya,” ujar Ganjar.
Ia menjelaskan, pola penyebaran paham radikal telah mengalami perubahan. Jika sebelumnya lebih banyak dilakukan melalui pertemuan langsung, kini berbagai narasi dan doktrin dapat diakses dengan mudah melalui media sosial, aplikasi percakapan, maupun platform digital lainnya.
Menurut Ganjar, sebagian besar remaja yang masuk ke dalam forum tersebut awalnya hanya mengikuti diskusi atau mencari informasi tertentu. Namun dalam beberapa kasus, paparan yang berlangsung secara terus-menerus dapat memengaruhi pola pikir dan cara pandang seseorang terhadap kehidupan bermasyarakat.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ancaman IRET tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan nyata, melainkan dapat diawali dari proses penyebaran ideologi dan pembentukan persepsi di ruang digital. Karena itu, penguatan literasi digital dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah masuknya pengaruh paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan dan kehidupan yang harmonis.
Ganjar menilai kalangan remaja menjadi kelompok yang cukup rentan karena memiliki intensitas tinggi dalam menggunakan internet dan media sosial. Kondisi itu membuat mereka lebih mudah bersentuhan dengan berbagai informasi, termasuk konten yang mengandung unsur intoleransi dan ekstremisme.
Di sisi lain, Kalimantan Tengah selama ini dikenal sebagai daerah yang memiliki tingkat keberagaman dan toleransi yang kuat. Kehidupan masyarakat yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya menjadi modal sosial yang penting dalam menjaga stabilitas daerah.
Meski demikian, perkembangan teknologi informasi membuat batas wilayah tidak lagi menjadi penghalang masuknya berbagai ideologi dari luar. Karena itu, kewaspadaan terhadap penyebaran paham radikal melalui platform digital dinilai perlu terus ditingkatkan.
“Peran keluarga, sekolah, komunitas, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen daerah sangat penting dalam membangun ketahanan terhadap pengaruh paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme,” kata Katim Pencegahan Satgaswil Kalteng Densus 88 AT Polri tersebut.
Ia menambahkan, berbagai upaya edukasi dan sosialisasi terus dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya menjaga nilai toleransi, persatuan, dan kehidupan yang damai di tengah keberagaman.
Temuan adanya remaja yang terlibat dalam forum komunikasi bernuansa radikal tersebut menjadi gambaran bahwa ancaman IRET masih memerlukan perhatian serius. Di tengah semakin luasnya akses internet, ruang digital kini menjadi salah satu medan utama penyebaran ideologi yang dapat memengaruhi cara berpikir generasi muda apabila tidak disikapi secara kritis dan bijak. (AK)






