Solar Non-Subsidi Naik, Pemilik Mobil Diesel di Palangka Raya Mulai “Merumahkan Kendaraannya”

Palangka Raya, Pradanamedia — Kenaikan harga bahan bakar jenis solar non-subsidi mulai memunculkan dampak baru di Kota Palangka Raya. Tidak hanya memukul biaya operasional kendaraan, kondisi ini juga mulai mengubah pergerakan pasar mobil bekas, khususnya kendaraan bermesin diesel.
Sejumlah warga mengaku mulai mempertimbangkan menjual kendaraan diesel mereka karena biaya penggunaan dinilai semakin berat, terutama bagi pengguna harian dan pelaku usaha kecil yang bergantung pada mobilitas tinggi.
Di beberapa showroom mobil bekas di kawasan Palangka Raya, stok kendaraan diesel disebut mulai bertambah dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena itu terjadi seiring meningkatnya pemilik kendaraan yang menawarkan mobil mereka untuk dijual ataupun ditukar tambah.
Salah satu pedagang mobil bekas di wilayah Jalan Tjilik Riwut menyebutkan, sebelumnya kendaraan diesel masih menjadi pilihan utama karena dianggap irit dan tangguh untuk medan Kalimantan Tengah. Namun setelah harga solar non-subsidi naik, minat masyarakat mulai bergeser.
“Sekarang banyak yang datang bukan cari diesel, tapi justru mau jual. Alasannya biaya isi BBM makin terasa,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, kendaraan jenis double cabin, SUV diesel, hingga pikap operasional mulai lebih sering masuk ke showroom dibanding beberapa bulan lalu. Di sisi lain, calon pembeli juga menjadi lebih berhitung sebelum mengambil kendaraan bermesin diesel.
Warga Palangka Raya yang bekerja di sektor perkebunan dan distribusi barang menjadi kelompok yang paling terdampak. Sebab konsumsi BBM kendaraan operasional mereka relatif tinggi, sementara aktivitas harian tidak bisa dikurangi.
Seorang pengemudi usaha logistik lokal mengaku pengeluaran untuk bahan bakar kini meningkat cukup signifikan dalam sebulan. Kondisi itu membuat sebagian pelaku usaha mulai mencari alternatif kendaraan berbahan bakar bensin ataupun kendaraan dengan konsumsi BBM lebih rendah.
“Kalau dulu diesel dipilih karena lebih hemat untuk jarak jauh. Sekarang selisih biaya operasional sudah makin terasa,” katanya.
Pengamat otomotif lokal menilai perubahan tren ini bisa memengaruhi harga pasar mobil diesel bekas di daerah dalam beberapa waktu ke depan. Jika suplai kendaraan terus bertambah sementara daya beli melemah, harga jual kendaraan diesel diperkirakan ikut mengalami penyesuaian.
Meski demikian, kendaraan diesel masih dianggap memiliki pasar tersendiri di Kalimantan Tengah, terutama untuk kebutuhan angkutan, perjalanan lintas kabupaten, dan aktivitas perkebunan yang membutuhkan tenaga mesin lebih besar. (AK)






