Modus Baru Mengatasnamakan Pajak: Telepon WhatsApp, Arahkan ke Coretax Palsu, Ujungnya Data Dikuras

Palangka Raya, Pradanamedia – Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap maraknya aksi penipuan digital yang mengatasnamakan kantor pajak. Modus terbaru ini menyasar wajib pajak dengan dalih “aktivasi Coretax”, namun berujung pada pengambilalihan data hingga potensi kerugian finansial.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pelaku memulai aksinya dengan menghubungi calon korban melalui WhatsApp menggunakan nomor 0859-2729-8785. Dalam percakapan tersebut, pelaku berperan seolah-olah sebagai petugas dari Kantor Pajak Pratama.

Dengan nada meyakinkan dan terkesan resmi, korban kemudian diarahkan untuk membuka sebuah situs yang menyerupai layanan resmi, yakni core-taxdjp.com. Sekilas, tampilan situs tersebut tampak profesional, namun diduga kuat merupakan halaman palsu yang dirancang untuk menjebak pengguna.
Tidak berhenti di situ, pelaku melanjutkan aksinya dengan memandu korban untuk mengunduh aplikasi tertentu. Di titik ini, jebakan mulai terlihat jelas—korban diminta untuk menonaktifkan pengaturan keamanan pada ponsel, sebuah langkah yang membuka celah lebar bagi pelaku untuk mengakses perangkat secara penuh.
Praktik ini diduga merupakan bagian dari skema phishing dan remote access scam, di mana pelaku berupaya mengambil alih kendali perangkat, mencuri data pribadi, termasuk akses ke akun keuangan dan identitas digital korban.
Yang patut digarisbawahi, otoritas pajak tidak pernah meminta aktivasi sistem melalui jalur pribadi seperti WhatsApp, apalagi sampai mengarahkan unduhan aplikasi di luar kanal resmi dan meminta pengguna mematikan sistem keamanan perangkat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa modus penipuan kini semakin canggih—menggabungkan pendekatan psikologis, tampilan digital yang meyakinkan, hingga teknik manipulasi perangkat.
Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada pihak yang mengaku sebagai petugas pajak tanpa verifikasi. Jika menerima komunikasi mencurigakan, langkah paling aman adalah mengabaikan, tidak mengklik tautan, serta tidak mengunduh aplikasi apa pun yang diarahkan oleh pihak tak dikenal.
Kewaspadaan menjadi benteng terakhir. Sebab dalam dunia digital hari ini, satu klik yang salah bisa berarti pintu terbuka bagi kejahatan. (AK)






