Misi Padamkan Karhutla Berujung Petaka! Helikopter Water Bombing Jatuh di Seruyan, Awak Jadi Korban

SERUYAN l PRADANAMEDIA – Misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui jalur udara berubah menjadi tragedi. Helikopter Mi-17 milik Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) jatuh di perairan sekitar Pantai Pematang Limau, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11/2026).
Helikopter dengan nomor registrasi HA-5235 itu tengah menjalankan operasi water bombing untuk memadamkan karhutla. Namun, saat melakukan pengambilan air di wilayah perairan, pesawat mengalami kecelakaan hingga ditemukan dalam kondisi terbalik.
Peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan penerbangan biasa. Delapan personel berada di dalam helikopter ketika insiden terjadi. Mereka menjalankan misi penanggulangan karhutla yang menuntut kemampuan teknis tinggi sekaligus menghadapi risiko penerbangan di tengah kondisi lapangan yang tidak mudah.
Informasi kecelakaan diterima petugas lalu lintas penerbangan sekitar pukul 11.17 WIB. Sebelum kejadian, helikopter diketahui terbang dari Bandara Kuala Pembuang menuju wilayah Telaga Pulang. Dalam perjalanan, sasaran penerbangan berubah menuju Pematang Limau karena kondisi cuaca.
Evakuasi Berlangsung di Tengah Keterbatasan
Setelah kecelakaan terjadi, proses penyelamatan langsung dilakukan. Helikopter PK-DAP milik Kementerian Kehutanan turut membantu mengevakuasi kru dari permukaan air menggunakan peralatan bambi bucket.
Empat personel berhasil diangkat dari perairan menuju daratan. Selanjutnya, helikopter Bell 412 Penerbad dikerahkan untuk membawa korban ke Bandara Kuala Pembuang guna mendapatkan penanganan.
Namun, kabar yang datang dari lokasi kecelakaan membawa duka. Dari delapan personel di dalam helikopter, dua orang dilaporkan meninggal dunia, lima mengalami luka-luka, dan satu lainnya masih dalam pencarian berdasarkan perkembangan informasi yang diberitakan.
Karhutla Belum Tuntas, Operasi Udara Dihantam Tragedi
Kecelakaan ini memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi personel dalam operasi pemadaman karhutla. Ketika api harus dikejar dari udara, setiap penerbangan berhadapan dengan berbagai kemungkinan yang dapat berubah dalam hitungan menit.
Perubahan sasaran penerbangan akibat kondisi cuaca menjadi salah satu informasi penting yang harus ditelusuri dalam investigasi. Apakah kecelakaan dipicu faktor cuaca, persoalan teknis pesawat, kondisi saat pengambilan air, atau kombinasi beberapa faktor, semuanya harus dibuktikan melalui pemeriksaan.
Jangan sampai tragedi ini berhenti pada laporan kecelakaan semata. Publik membutuhkan penjelasan mengenai penyebab jatuhnya helikopter, kondisi penerbangan sebelum insiden, hingga standar keselamatan yang diterapkan dalam operasi water bombing.
Sebab, misi memadamkan api tidak boleh mengabaikan keselamatan orang-orang yang berada di garis depan. Mereka diterbangkan untuk menyelamatkan kawasan hutan dan masyarakat dari ancaman karhutla, tetapi negara juga memiliki tanggung jawab memastikan keselamatan mereka.
Kini, selain pencarian personel yang belum ditemukan, pertanyaan besar yang harus dijawab adalah apa sebenarnya yang menyebabkan helikopter Mi-17 tersebut jatuh di perairan Seruyan.
Tragedi ini menyisakan duka sekaligus tuntutan keterbukaan. Penyebab kecelakaan harus diungkap secara terang, bukan dibiarkan menjadi tanda tanya di tengah operasi penanggulangan karhutla. (Red)










