PRADANA MEDIA

JUJUR, TEPAT DAN TERPERCAYA

Uncategorized

Karhutla Mendominasi Catatan Bencana Kalteng, OMC Dikerahkan Hadapi Musim Kemarau

Bagikan Berita

Palangka Raya, Pradanamedia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi peristiwa bencana yang paling banyak terjadi di Kalimantan Tengah sepanjang semester pertama 2026. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah mencatat sebanyak 516 kejadian bencana terjadi hingga 22 Juni 2026, dengan mayoritas merupakan kasus karhutla.

Dari jumlah tersebut, tercatat 323 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan luas area terdampak mencapai sekitar 456,78 hektare. Sebaran kejadian paling banyak ditemukan di Kota Palangka Raya, disusul Kabupaten Kotawaringin Timur dan Barito Utara.

Memasuki periode kemarau, pemerintah daerah mulai mengintensifkan berbagai langkah pengendalian. Salah satunya melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilaksanakan untuk meningkatkan peluang hujan di sejumlah wilayah yang mulai mengalami penurunan curah hujan.

Operasi tersebut dilakukan dengan penyemaian bahan semai awan menggunakan pesawat pada area yang dinilai memiliki potensi pembentukan awan hujan. Langkah ini diarahkan untuk menjaga kelembapan lahan, terutama pada kawasan gambut yang rentan mengalami kebakaran saat musim kering berlangsung.

Beberapa wilayah yang menjadi fokus pelaksanaan OMC antara lain Kabupaten Katingan, Barito Selatan, dan Kotawaringin Timur. Ketiga daerah tersebut termasuk kawasan yang memiliki tingkat kerawanan karhutla cukup tinggi berdasarkan pemantauan kondisi lapangan.

Selain karhutla, BPBD juga mencatat sejumlah kejadian bencana lainnya sepanjang tahun ini, seperti banjir, cuaca ekstrem, tanah longsor, dan pohon tumbang. Namun dari keseluruhan data yang masuk, karhutla tetap menjadi kejadian yang paling dominan.

Status Siaga Darurat Bencana Karhutla di Kalimantan Tengah saat ini masih berlaku hingga Oktober 2026. Seiring meningkatnya potensi kekeringan pada sejumlah wilayah, pemantauan titik panas dan kondisi lahan terus dilakukan untuk memetakan daerah yang berisiko mengalami kebakaran.

Berdasarkan hasil pemantauan BPBD, beberapa kawasan di Kalimantan Tengah mulai menunjukkan tingkat kerentanan terbakar yang lebih tinggi dibandingkan awal tahun. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang mendorong percepatan pelaksanaan berbagai upaya mitigasi menjelang puncak musim kemarau. (AK)


Bagikan Berita

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *