
Palangka Raya, Pradanamedia – Industri sawit kembali diguncang penurunan tajam harga crude palm oil (CPO). Nilainya disebut merosot hingga Rp1,98 juta per ton, memicu kekhawatiran di daerah-daerah yang selama ini hidup dari denyut perkebunan sawit.
Turunnya harga CPO bukan hanya pukulan bagi perusahaan besar, tetapi mulai menghantam ekonomi lapisan bawah. Petani sawit kini menghadapi ancaman pendapatan yang makin tipis, sementara biaya pupuk, transportasi, dan operasional kebun terus merangkak naik.
Di banyak wilayah penghasil sawit, kondisi ini mulai memunculkan kecemasan. Sebab ketika harga sawit jatuh, efeknya tidak berhenti di kebun. Aktivitas angkutan melambat, daya beli masyarakat ikut turun, hingga perputaran uang di daerah mulai terasa lesu.
Situasi ini juga menjadi alarm bagi sektor ketenagakerjaan. Ketika keuntungan perusahaan tergerus, langkah efisiensi hampir selalu menjadi pilihan paling cepat. Mulai dari pengurangan aktivitas produksi hingga pengetatan biaya pekerja menjadi risiko yang sulit dihindari.
Anjloknya harga sawit turut dipengaruhi tekanan pasar global dan melemahnya permintaan ekspor. Ketergantungan tinggi terhadap pasar internasional membuat komoditas andalan ini gampang goyah ketika ekonomi dunia sedang tidak stabil.
Jika tren penurunan terus berlanjut, sawit yang selama ini dianggap “urat nadi” ekonomi daerah bisa berubah menjadi sumber kegelisahan baru bagi masyarakat perkebunan. (AK)






