PRADANA MEDIA

JUJUR, TEPAT DAN TERPERCAYA

LOKAL SOSIAL BUDAYA

Udara Palangka Raya 67 Kali Lipat di Atas Batas WHO, Karhutla Bakar 1.441 Hektare

Bagikan Berita

PRADANAMEDIA, PALANGKA RAYA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kian mengkhawatirkan. Bukan sekadar mengganggu jarak pandang, asap yang menyelimuti kota juga membawa ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, balita, dan lanjut usia.

Dalam laporan KompasTV, konsentrasi partikel halus PM2,5 di Palangka Raya sempat mencapai 1.057 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut jauh melampaui pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 15 mikrogram per meter kubik untuk rata-rata 24 jam.

Jika dibandingkan dengan angka pedoman tersebut, konsentrasi PM2,5 yang dilaporkan itu mencapai sekitar 70 kali lipat. Meski demikian, perbandingan ini perlu dibaca dengan memperhatikan perbedaan periode pengukuran, karena angka yang dilaporkan merupakan kondisi pada waktu tertentu, sedangkan pedoman WHO menggunakan rata-rata 24 jam.

Kondisi tersebut menggambarkan betapa seriusnya ancaman asap karhutla yang harus dihadapi warga. Udara yang seharusnya menjadi kebutuhan dasar untuk hidup sehat justru berubah menjadi sumber kecemasan setiap kali masyarakat keluar rumah.

Kabut asap yang menyengat membuat aktivitas di luar ruangan semakin berat. Penggunaan masker menjadi kebutuhan bagi warga yang tetap harus bekerja dan menjalankan kegiatan sehari-hari di tengah buruknya kualitas udara.

Ribuan Warga Terancam Gangguan Pernapasan

Dampak kabut asap tidak berhenti pada rasa perih di mata atau tenggorokan. Warga dilaporkan mengalami keluhan sesak napas, batuk, hingga sakit kepala, bahkan ketika berada di dalam rumah.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya yang disampaikan dalam laporan tersebut, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) telah melampaui 10.000 kasus. Anak-anak dan lansia disebut menjadi kelompok yang banyak mengalami gangguan pernapasan.

Situasi ini menempatkan kesehatan masyarakat sebagai persoalan mendesak yang membutuhkan perhatian serius. Ketika paparan asap terus berlangsung, kelompok rentan menghadapi risiko yang lebih besar, sementara masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan sulit sepenuhnya menghindari udara tercemar.

876 Kejadian Karhutla, Luas Terbakar 1.441 Hektare

Tingginya paparan asap berjalan seiring dengan maraknya kebakaran lahan. Data BPBD Kota Palangka Raya yang dikutip dalam laporan tersebut mencatat sebanyak 876 kejadian karhutla, dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.441 hektare.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan, deteksi dini, pemadaman cepat, serta pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan perlu berjalan secara konsisten agar kebakaran tidak terus meluas dan memperburuk kualitas udara.

Di tengah kondisi itu, masyarakat membutuhkan penanganan yang nyata dan terukur. Upaya pemadaman harus dibarengi perlindungan kesehatan warga, terutama mereka yang tinggal dekat lokasi kebakaran dan terpaksa beraktivitas di tengah kabut asap.

Pekerja Lapangan Dipaksa Bertahan di Tengah Asap

Bagi sebagian masyarakat, menghindari udara buruk bukan perkara mudah. Pengemudi ojek daring dan petugas kebersihan, misalnya, tetap harus bekerja di luar ruangan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Petugas kebersihan yang diwawancarai dalam laporan tersebut mengaku tetap menjalankan pekerjaan meskipun kondisi udara sangat buruk. Pilihan untuk berhenti bekerja bukan hal sederhana ketika penghasilan harian menjadi penopang kebutuhan keluarga.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyentuh persoalan ekonomi dan perlindungan pekerja. Mereka yang menggantungkan hidup pada aktivitas di luar ruangan justru menjadi kelompok yang sulit menghindari paparan asap.

Karena itu, perlindungan terhadap masyarakat perlu menjadi bagian penting dari penanganan bencana, termasuk penyediaan masker yang sesuai, informasi kualitas udara yang mudah diakses, layanan kesehatan, serta langkah pembatasan aktivitas luar ruangan apabila kondisi membahayakan.

Desakan Penanganan Lebih Serius

Di tengah kabut asap yang terus mengganggu kehidupan sehari-hari, muncul kritik masyarakat terhadap penanganan karhutla yang dinilai belum cukup sigap. Sebagian warga bahkan menilai skala bencana ini perlu menjadi pertimbangan serius bagi pemerintah pusat, termasuk mengenai kemungkinan penetapan status bencana nasional.

Namun, penetapan status tersebut membutuhkan penilaian berdasarkan kondisi faktual, skala dampak, kemampuan penanganan pemerintah daerah, dan ketentuan yang berlaku. Yang tidak kalah penting, keputusan administratif tidak boleh mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendesak masyarakat untuk memperoleh udara yang lebih bersih dan perlindungan kesehatan.

Kabut asap juga dilaporkan berdampak hingga negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Persoalan ini mempertegas bahwa karhutla bukan sekadar urusan pemadaman api di suatu wilayah, melainkan persoalan lingkungan yang dapat menimbulkan dampak lebih luas.

Pemerintah dan seluruh pihak terkait dituntut memperkuat langkah pencegahan, mempercepat penanganan titik api, serta memastikan kelompok rentan dan pekerja lapangan mendapat perlindungan yang memadai.

Sebab, ketika udara bersih semakin sulit dihirup, yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan masyarakat, melainkan kesehatan dan keselamatan warga. (Red)


Bagikan Berita

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *