Detik-Detik Mencekam di Perairan Katingan, 7 ABK TB Armada Jaya 11 Diselamatkan Tim SAR

KATINGAN, PRADANAMEDIA — Laut Katingan kembali menunjukkan wajah kerasnya. Di tengah gelombang yang cukup tinggi, kepanikan sempat menyelimuti awak kapal TB Armada Jaya 11 setelah kapal yang tengah berlayar mengalami gangguan dan mulai kemasukan air.
Peristiwa itu terjadi di perairan Pagatan, Kecamatan Katingan Kuala, Kalimantan Tengah, Rabu (2/9/2026). Kapal TB Armada Jaya 11 diketahui sedang menarik TK TB SOL 2321 dengan tujuan pelayaran dari Kapuas, Kalimantan Tengah, menuju Futong, Provinsi Riau.
Situasi berubah menjadi genting ketika mesin kapal mengalami trouble. Pada saat bersamaan, roda propeller terlilit tali tongkang hingga kapal mengalami kandas. Tak lama berselang, air masuk dengan cepat melalui sisi kiri kapal.
Dalam kondisi darurat tersebut, nahkoda bersama anak buah kapal (ABK) segera mengambil keputusan untuk meninggalkan kapal dan menggunakan sekoci sebagai upaya menyelamatkan diri.
Laporan mengenai kejadian itu diterima Ditpolairud Polda Kalteng sekitar pukul 21.00 WIB. Informasi awal disampaikan melalui Komandan Kapal Polisi XVIII-2006 Ditpolairud Polda Kalteng, Aipda Choirul Mahfud, yang kemudian diteruskan untuk dikoordinasikan bersama Basarnas, TNI AL, KPLP dan KSOP Sampit.
Respons cepat langsung dilakukan.Direktur Polairud Polda Kalteng mengerahkan personel SAR dari jajaran terdekat untuk menuju lokasi. Sebanyak delapan personel dari Markas Unit Pagatan Ditpolairud Polda Kalteng bergerak sekitar pukul 21.30 WIB mengingat lokasi kejadian relatif dekat dengan wilayah tugas mereka.
Waktu menjadi faktor penentu. Kondisi laut yang masih diterpa gelombang tinggi membuat proses evakuasi tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Namun, tim tetap bergerak untuk memastikan keselamatan para awak kapal.
Hasilnya, seluruh ABK berhasil ditemukan dan dievakuasi.Sebanyak 7 orang ABK TB Armada Jaya 11 berhasil diselamatkan pada Kamis (3/9/2026) sekitar pukul 00.25 WIB. Seluruhnya dilaporkan dalam kondisi baik dan selanjutnya menjalani pemeriksaan kesehatan serta pendataan.
Kamar NIT Pagatan Ditpolairud Polda Kalteng, Aipda Ade Sudarman, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut proses penyelamatan berlangsung dalam kondisi laut yang masih cukup berat.
Keberhasilan evakuasi ini kembali menunjukkan bahwa dalam kecelakaan di wilayah perairan, kecepatan merespons bukan sekadar persoalan teknis, tetapi menyangkut keselamatan manusia.Di sisi lain, tenggelamnya kapal juga menyisakan sejumlah pertanyaan. Apa yang menjadi penyebab utama gangguan mesin? Bagaimana kondisi kapal sebelum berlayar? Dan apakah faktor cuaca serta kondisi peralatan pelayaran turut berpengaruh? Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menunggu hasil penyelidikan.
Pihak Ditpolairud Polda Kalteng menyatakan penyebab pasti insiden maupun besaran kerugian masih dalam proses penyelidikan.
Untuk sementara, satu hal paling penting telah tercapai: tujuh nyawa berhasil diselamatkan dari situasi laut yang berubah menjadi ancaman dalam hitungan menit.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa jalur perairan bukan sekadar lintasan distribusi barang dan transportasi. Di balik aktivitas pelayaran, selalu ada risiko yang menuntut kesiapan kapal, kewaspadaan awak, dukungan sarana keselamatan, serta kecepatan aparat ketika keadaan berubah menjadi darurat. (AK)





