Kolaborasi UIN Palangka Raya dan Densus 88, Ribuan Mahasiswa Diperkuat Hadapi Ancaman IRET di Era Digital

PALANGKA RAYA, PRADANAMEDIA — Aula Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya mendadak bergemuruh pada Jumat pagi, 19 Juni 2026. Sebanyak 1.700 mahasiswa berkumpul, bukan sekadar untuk mengikuti simulasi ibadah haji, melainkan juga menerima pembekalan wawasan kebangsaan dan pencegahan paham ekstrem sebelum diterjunkan ke tengah masyarakat.
Acara bertajuk Manasik Haji Bersama Mahasiswa UIN Palangka Raya ini mencatatkan sejarah baru. Melibatkan ribuan peserta, perhelatan kolosal tersebut resmi membidik rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Namun di balik kemegahan kegiatan tersebut, tersimpan misi yang tidak kalah penting, yakni memperkuat ketahanan generasi muda Kalimantan Tengah terhadap pengaruh paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET) serta nihilisme yang berkembang di ruang digital.
Kolaborasi Strategis di Lingkungan Kampus
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama strategis antara Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Kalimantan Tengah Densus 88 Antiteror Polri dengan UIN Palangka Raya.
Acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars UIN Palangka Raya. Dalam sambutannya, Rektor UIN Palangka Raya, Prof. Dr. H. Ahmad Dakhoir, SHI., MHI., menekankan pentingnya membangun kesiapan intelektual, mental, dan karakter mahasiswa sebelum mereka menjalankan pengabdian kepada masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Haji RI, Dr. H. Puji Raharjo, S.Ag., SS., M.Hum., yang hadir sekaligus membuka acara secara resmi, mengapresiasi konsep kegiatan yang menggabungkan pembelajaran keagamaan dengan penguatan wawasan kebangsaan.
Menurutnya, manasik haji tidak hanya menjadi sarana memahami tata cara ibadah, tetapi juga momentum membangun nilai persatuan, toleransi, dan tanggung jawab sosial di kalangan generasi muda.

Ancaman IRET di Era Digital
Sesi yang paling menyita perhatian peserta berlangsung saat Iptu Ganjar Satriyono, S.Sos., MAP., Kepala Tim Pencegahan Satgaswil Kalteng Densus 88 AT Polri, menyampaikan materi bertajuk Strategi Pencegahan Paham IRET dan Nihilisme/TCC di Wilayah Kalimantan Tengah.
Dalam paparannya, Ganjar menjelaskan bahwa penyebaran paham IRET saat ini tidak lagi dilakukan secara konvensional. Media sosial, forum diskusi tertutup, aplikasi perpesanan, hingga berbagai platform digital telah menjadi sarana yang kerap dimanfaatkan kelompok tertentu untuk menyebarkan narasi kebencian, intoleransi, hingga ajakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan.
Ia mengingatkan bahwa kelompok usia muda, khususnya mahasiswa, menjadi salah satu sasaran yang rentan karena memiliki tingkat aktivitas digital yang tinggi. Paparan informasi yang tidak terverifikasi, konten provokatif, hingga propaganda yang dikemas secara menarik dapat memengaruhi cara pandang seseorang secara perlahan tanpa disadari.
“Mahasiswa harus diberikan imunitas sejak dini. Tanpa daya tahan yang kuat, mereka rentan terpapar paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET), hingga paham nihilisme atau Tactical Cyber Crime (TCC) yang kini masif bergerak lewat ruang digital,” ujar Ganjar.
Menurutnya, bahaya IRET bukan hanya berpotensi memecah persatuan masyarakat, tetapi juga dapat menurunkan kepercayaan terhadap institusi negara, mendorong sikap eksklusif dalam kehidupan sosial, hingga memunculkan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Karena itu, kemampuan berpikir kritis, literasi digital, serta sikap terbuka terhadap perbedaan menjadi faktor penting dalam membangun ketahanan generasi muda terhadap berbagai bentuk pengaruh negatif di dunia maya.
Mahasiswa sebagai Agen Deteksi Dini
Langkah preventif ini diambil bukan tanpa alasan. Sebanyak 1.700 mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan calon peserta KKN yang dalam waktu dekat akan disebar ke berbagai kabupaten dan desa di Kalimantan Tengah.
Di wilayah penempatan nanti, mereka akan berhadapan dengan beragam dinamika sosial, budaya, dan perkembangan informasi yang berbeda-beda. Kondisi tersebut menjadikan mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen edukasi sekaligus penghubung antara kampus dan masyarakat.
Melalui pembekalan yang diberikan, Satgaswil Kalteng berharap para mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja KKN, tetapi juga mampu menjadi mitra masyarakat dalam membangun lingkungan yang kondusif, toleran, dan tangguh terhadap berbagai bentuk penyebaran paham ekstrem.
Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya deteksi dini sekaligus menyebarluaskan pemahaman tentang pentingnya menjaga persatuan, meningkatkan literasi digital, serta mencegah berkembangnya paham IRET dan nihilisme di tengah masyarakat Kalimantan Tengah. (AK)






