24 Jam, Dua Tersangka, 1 Kg Sabu: Kotim Kembali Jadi Lintasan Empuk Jaringan Narkotika

Sampit, Pradanamedia — Waktu kurang dari sehari cukup bagi Polres Kotim untuk membongkar dua simpul peredaran narkotika di Kotawaringin Timur. Namun di balik keberhasilan itu, tersingkap pola lama yang terus berulang: distribusi cepat, penyimpanan sederhana, dan jaringan yang diduga belum sepenuhnya terkuak.
Satuan Reserse Narkoba Polres Kotim bergerak dalam dua operasi terpisah, Selasa (14/5/2026). Hasilnya tidak main-main—lebih dari 1 kilogram sabu diamankan dari dua lokasi berbeda dalam rentang waktu hanya beberapa jam.
Pengungkapan pertama terjadi sekitar pukul 17.00 WIB di kawasan Jalan Baamang I, Gang Owe Atut, Kecamatan Baamang. Seorang pria berinisial MK (26) diciduk setelah laporan warga mengarah pada aktivitas mencurigakan. Polisi yang melakukan pengintaian langsung menghentikan dan menggeledah pelaku.
Hasilnya, sabu seberat 90,30 gram ditemukan tersembunyi dalam kemasan makanan ringan—dibungkus tisu dan diselipkan di dashboard sepeda motor. Modus sederhana, tapi berulang. Pola yang seolah menunjukkan bahwa pengedar masih percaya cara lama cukup untuk menembus pengawasan.
Belum genap lima jam, penindakan kedua dilakukan sekitar pukul 21.00 WIB di Jalan Iskandar, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Kali ini, polisi mengamankan AK (46) di depan rumahnya.
Dari dalam jok sepeda motor milik pelaku, ditemukan 17 paket sabu dengan berat kotor mencapai 1.037,8 gram. Barang haram itu dikemas dalam kantong berwarna—upaya kamuflase yang lagi-lagi tidak baru, namun tetap digunakan.
Selain sabu, aparat turut menyita timbangan digital, plastik klip, alat isap, telepon genggam, hingga kendaraan yang digunakan pelaku. Indikasi kuat bahwa aktivitas ini bukan sekadar konsumsi, melainkan bagian dari rantai distribusi.
Kasat Resnarkoba Polres Kotim, AKP Suherman, membenarkan pengungkapan tersebut. Namun, pernyataannya masih minim detail.
“Iya benar. Nanti akan dirilis bersama Kapolres,” ujarnya singkat.
Pernyataan itu menyisakan ruang tanya. Sebab dari dua kasus dengan total barang bukti lebih dari satu kilogram, publik tak hanya menunggu rilis resmi—tetapi juga kejelasan soal jaringan di baliknya.
Apakah MK dan AK sekadar kurir? Atau justru bagian dari simpul distribusi yang lebih besar di wilayah Kotim?
Fakta bahwa sabu dalam jumlah besar bisa beredar hingga level lokal menunjukkan satu hal: jalur masuk masih terbuka. Penindakan di hilir memang penting, tetapi tanpa memutus suplai dari hulu, pengungkapan seperti ini berpotensi hanya menjadi rutinitas tanpa efek jangka panjang.
Kotim, sekali lagi, muncul dalam peta peredaran narkotika. Dan selama pola lama terus dibiarkan berulang, jaringan akan selalu menemukan celah—lebih cepat dari upaya penindakan. (AK)




