
Jakarta, Pradanamedia – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam menjadikan momentum Idulfitri 1447 Hijriah sebagai titik refleksi untuk memperkuat empati dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pesan Idulfitri yang disampaikan di Jakarta, ia menegaskan bahwa Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter yang lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitar. Puasa, menurutnya, menjadi sarana melatih kepekaan terhadap sesama, terutama mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Ia menjelaskan, gema takbir yang mengiringi datangnya Idulfitri bukan sekadar penanda berakhirnya bulan suci, melainkan simbol kemenangan spiritual. Kemenangan tersebut tercermin dari kemampuan umat menjaga nilai-nilai kebaikan yang telah ditempa selama Ramadan.
Menurutnya, esensi kemenangan tidak berhenti pada euforia hari raya, tetapi terletak pada konsistensi dalam menjaga nilai kesalehan, seperti kejujuran, disiplin, dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih lanjut, Menag mengingatkan bahwa Idulfitri harus menjadi momentum untuk terus menebar kebaikan dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Keberkahan, kata dia, hanya dapat diraih oleh mereka yang memiliki hati terbuka dan aktif berkontribusi bagi sesama.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak membiarkan semangat Ramadan memudar setelah hari raya usai. Nilai-nilai yang telah dilatih selama sebulan penuh diharapkan tetap hidup dan menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan sosial.
“Idulfitri bukan sekadar kembali ke rutinitas, tetapi bagaimana menjaga api kesalehan tetap menyala,” pesannya.
Menutup pernyataannya, Menag menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idulfitri serta harapan agar keberkahan, kedamaian, dan kerukunan senantiasa menyertai seluruh masyarakat Indonesia. (AK)





