PRADANA MEDIA

JUJUR, TEPAT DAN TERPERCAYA

NASIONAL OLAHRAGA

Domino Naik Kelas: Dari Permainan Warung ke Arena Prestasi, ORADO Kalteng Resmi Tancap Gas

Bagikan Berita

Palangka Raya, Pradanamedia — Domino tak lagi sekadar bunyi kartu beradu di sudut warung kopi. Senin malam (13/4/2026), di Atrium Duta Mall Palangka Raya, permainan yang selama ini identik dengan santai dan “isi waktu” itu resmi naik kelas—dikunci dalam struktur organisasi, disahkan lewat SK, dan didorong masuk jalur prestasi.

Pelantikan Pengurus Provinsi ORADO Kalimantan Tengah periode 2026–2030, dibarengi pelantikan serentak pengurus cabang se-Kalteng serta pembukaan Kejuaraan Provinsi (Kejurprov), menjadi penanda bahwa domino kini sedang direbut dari ruang informal menuju panggung olahraga yang lebih serius.

Acara yang dihadiri Wakil Gubernur Kalteng Edy Pratowo, Pj Sekda Linae Victoria Aden, unsur Forkopimda, hingga perwakilan pusat ORADO itu bukan sekadar seremoni. Ini adalah legitimasi—bahwa domino sedang dikemas ulang, dipoles, dan diposisikan sebagai cabang olahraga dengan arah jelas.

Ketua ORADO Kalteng, Rusdi, tak menutup fakta bahwa fondasi sedang dibangun cepat. Sebanyak 62 wasit telah dilatih dan disiapkan untuk disebar ke seluruh wilayah. Ini bukan angka kecil—ini sinyal bahwa kompetisi akan digelar serius, bukan sekadar turnamen seremonial tanpa standar.

“Ini bukan lagi permainan biasa. Kita bicara sistem, pembinaan, dan jalur prestasi,” kira-kira pesan yang ingin ditegaskan.

Namun yang menarik, geliat ini juga memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: adanya upaya “meresmikan” budaya yang sebelumnya hidup liar di masyarakat. Domino, yang selama ini tumbuh tanpa regulasi jelas, kini ditarik masuk ke dalam kerangka organisasi.

Di sisi lain, Ketua Humas PB ORADO, Jhon LBF, menggarisbawahi bahwa organisasi ini sudah hadir di 38 provinsi. Artinya, ini bukan gerakan lokal—ini proyek nasional. Domino sedang diposisikan sebagai olahraga rakyat yang bisa diseragamkan, bahkan dipertandingkan lintas daerah hingga nasional.

Narasi yang dibangun pun cukup ambisius. Domino disebut bukan hanya hiburan, tapi juga sarana melatih strategi, logika, bahkan menjaga kamtibmas. Klaim ini tentu menarik—sekaligus mengundang pertanyaan: sejauh mana permainan ini benar-benar bisa bertransformasi tanpa kehilangan wajah aslinya di masyarakat?

Di level daerah, sinyal awal sudah terlihat. Dari kategori junior, Kabupaten Kapuas disebut berhasil melahirkan juara. Ini menunjukkan regenerasi mulai disentuh. Tapi lagi-lagi, tantangannya bukan di seremoni atau kejuaraan awal—melainkan pada konsistensi pembinaan.

Wakil Gubernur Edy Pratowo dalam sambutannya mencoba mengunci narasi besar: domino kini adalah olahraga. Ada nilai edukatif, ada strategi, ada konsentrasi. Pemerintah tampak memberi ruang—bahkan legitimasi—agar cabang ini tumbuh lebih formal.

Namun di balik itu, ada pekerjaan rumah yang tak kecil. Mengubah persepsi publik dari “permainan santai” menjadi “olahraga prestasi” bukan perkara deklarasi. Ia butuh sistem kompetisi berjenjang, regulasi tegas, hingga integritas penyelenggaraan.

Tanpa itu, ORADO berisiko hanya menjadi organisasi—bukan ekosistem.

Kegiatan yang berakhir pukul 21.30 WIB itu berlangsung aman dan kondusif. Tapi di luar arena, pertarungan sesungguhnya baru dimulai: membuktikan bahwa domino benar-benar bisa berdiri sejajar dengan cabang olahraga lain—bukan sekadar tren yang ramai di awal, lalu redup di tengah jalan. (AK)


Bagikan Berita

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *