PRADANA MEDIA

JUJUR, TEPAT DAN TERPERCAYA

EKONOMI NASIONAL

BEI Coret 18 Emiten Sekaligus: Dari “Tertidur” Bertahun-tahun hingga Bangkrut Diam-Diam

Bagikan Berita

Jakarta, Pradanamedia – Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya menarik garis tegas: 18 perusahaan tercatat akan dihapus dari papan perdagangan pada 10 November 2026. Bukan sekadar penertiban administratif, langkah ini lebih menyerupai “pengusiran massal” terhadap emiten yang sudah lama kehilangan denyut bisnisnya.

Faktanya, sebagian dari perusahaan tersebut bukan baru bermasalah. Ada yang sudah berstatus pailit, ada pula yang sahamnya membeku lebih dari 50 bulan—praktis jadi “mayat hidup” di bursa. Diperdagangkan tidak, dicabut juga belum. Menggantung terlalu lama, tanpa kepastian.

Aturan memang memberi dasar. Dalam Peraturan Bursa Nomor I-N, emiten bisa didepak jika kondisi usahanya memburuk dan tidak menunjukkan tanda pemulihan. Ditambah lagi, suspensi lebih dari 24 bulan sudah cukup menjadi “vonis awal”. Tapi di lapangan, realitasnya lebih keras: banyak emiten dibiarkan terlalu lama memburuk sebelum akhirnya diputuskan keluar.

Nama-nama besar dari sektor tekstil hingga manufaktur ikut terseret. Ini bukan sekadar daftar perusahaan gagal, melainkan cerminan rapuhnya sebagian model bisnis lama yang tak mampu beradaptasi—ditambah tata kelola yang kerap bermasalah.

Yang menarik, langkah BEI ini juga bisa dibaca sebagai koreksi terlambat. Pasar sempat dipenuhi saham-saham yang secara praktik sudah tidak likuid, tidak transparan, dan tidak relevan, tetapi tetap “hidup” secara administratif. Bagi investor ritel, kondisi ini bukan hanya membingungkan, tapi juga berisiko.

Delisting massal ini sekaligus membuka pertanyaan yang lebih dalam: bagaimana bisa perusahaan yang sudah “tidak bernyawa” bertahan bertahun-tahun di bursa tanpa kejelasan? Apakah mekanisme pengawasan terlalu longgar, atau justru ada toleransi yang kebablasan?

Di sisi lain, peluang relisting memang tetap ada. Tapi dalam praktiknya, jalan kembali ke bursa bukan perkara mudah. Perusahaan harus membuktikan pemulihan yang nyata—sesuatu yang selama ini gagal mereka tunjukkan.

Pada akhirnya, peristiwa ini bukan hanya tentang 18 emiten yang keluar, melainkan tentang kualitas pasar itu sendiri. BEI tampaknya sedang merapikan etalase—meski harus mengakui, beberapa “barang rusak” sudah terlalu lama dipajang. (AK)


Bagikan Berita

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *