3,2 Ton Es Kering Ditebar dari Udara, Upaya Baru Pemerintah Atasi Kabut Asap Karhutla di Kalteng

PALANGKA RAYA, PRADANAMEDIA – Pemerintah mencoba pendekatan baru untuk mengurangi dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Sebanyak 3,2 ton dry ice atau es kering digunakan dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu memperbaiki kondisi atmosfer yang membuat asap terperangkap di dekat permukaan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadapi kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat dan membatasi jarak pandang. Teknologi tersebut diterapkan melalui penyemaian dari udara, dengan harapan konsentrasi asap di lapisan bawah atmosfer dapat berkurang.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan bahwa penggunaan es kering menjadi alternatif dalam operasi modifikasi cuaca yang selama ini juga menggunakan bahan semai berupa garam atau natrium klorida (NaCl).
Es kering merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat dengan suhu sangat rendah, sekitar minus 78 derajat Celsius atau lebih dingin. Dalam kondisi atmosfer tertentu, material ini dapat memicu pembentukan kristal es di awan.
Namun, penggunaan dry ice dalam penanganan kabut asap kali ini juga diarahkan untuk membantu mengganggu lapisan inversi atmosfer, yakni kondisi yang dapat menahan asap dan polutan agar tetap berada dekat permukaan bumi.
Penyemaian Dilakukan di Kalteng dan Sumsel
Berdasarkan catatan BNPB, operasi pada 19 Oktober 2026 di Kalimantan Tengah dilaksanakan dalam lima sorti penerbangan dengan menggunakan 1.600 kilogram dry ice dan 300 kilogram garam.
Sementara di Sumatera Selatan, operasi dilakukan dalam tiga sorti. Sebanyak dua sorti menggunakan total 1.600 kilogram dry ice, sedangkan satu sorti lainnya menggunakan 800 kilogram garam.
Dengan demikian, penggunaan dry ice di kedua provinsi tersebut mencapai total 3,2 ton, disertai penyemaian garam dalam rangkaian operasi modifikasi cuaca.
BNPB menyebut metode ini berpotensi membantu memperbaiki jarak pandang dan mendukung penanganan kabut asap. Meski demikian, hasilnya tetap bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang mendukung pelaksanaan operasi.
Lapisan Asap Jadi Sasaran Penanganan
Berbeda dengan penyemaian yang secara khusus ditujukan untuk memicu hujan, penggunaan dry ice dalam operasi ini juga diarahkan untuk memengaruhi kondisi atmosfer yang menyebabkan asap terperangkap di dekat permukaan.
Ketika lapisan inversi terbentuk, pergerakan udara ke atas dapat terhambat sehingga asap dan polutan terkumpul di lapisan bawah. Melalui penyemaian dari udara, pemerintah berupaya mengubah kondisi tersebut agar pergerakan udara menjadi lebih baik dan konsentrasi asap di permukaan berpotensi menurun.
Meski demikian, teknologi ini bukan solusi tunggal untuk mengatasi karhutla. Efektivitasnya bergantung pada situasi cuaca dan kondisi atmosfer di lokasi operasi.
Berton menegaskan, pelaksanaan modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena membutuhkan kondisi alam yang sesuai. Ketersediaan awan dan kelayakan atmosfer menjadi faktor penting dalam menentukan apakah penyemaian dapat dilaksanakan.
Pemadaman Titik Api Tetap Menjadi Prioritas
Di tengah upaya mengurangi kabut asap dari udara, penanganan sumber kebakaran tetap menjadi pekerjaan utama. Operasi modifikasi cuaca dan penyemaian dry ice diarahkan untuk membantu mengurangi dampak asap, sedangkan pemadaman di lokasi kebakaran tetap memerlukan keterlibatan petugas darat dan satuan tugas udara.
Petugas darat memiliki peran penting untuk menjangkau titik api serta melakukan pendinginan hingga ke bagian dalam lahan yang terbakar. Sementara itu, pemadaman melalui udara diperlukan untuk membantu menangani kebakaran yang sulit dijangkau atau meluas.
Bagi Kalimantan Tengah, langkah penanganan ini menjadi penting karena dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan luas lahan yang terbakar, tetapi juga kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan kelancaran aktivitas sehari-hari.
Pemerintah diharapkan terus mengevaluasi efektivitas penggunaan teknologi tersebut, sekaligus memastikan upaya pencegahan, patroli, pemadaman, dan pengawasan kawasan rawan kebakaran tetap berjalan.
Tantangan utama bukan sekadar menipiskan kabut asap, tetapi memastikan sumber kebakaran dapat dikendalikan. Tanpa penanganan titik api dan pencegahan yang konsisten, upaya memperbaiki kondisi udara berisiko hanya menjadi langkah sementara di tengah ancaman karhutla yang berulang. (AK)










