ISPA Tembus 11.276 Kasus di Palangka Raya, Mobil Oksigen Keliling Disiapkan Hadapi Kabut Asap

PALANGKA RAYA, PRADANAMEDIA – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kian menjadi perhatian. Selain mengganggu aktivitas masyarakat, kabut asap juga meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan warga. Hingga 19 Oktober 2026, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dilaporkan mencapai 11.276 kasus sejak Juni.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya menyiapkan sejumlah langkah untuk memperluas akses pertolongan medis. Fasilitas rumah oksigen dan layanan mobil oksigen keliling disiapkan sebagai bagian dari upaya membantu masyarakat yang membutuhkan dukungan pernapasan.
Kabut asap yang menyelimuti wilayah kota menjadi persoalan yang tidak bisa dipandang sebatas gangguan lingkungan. Paparan udara tercemar berpotensi memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Situasi ini menuntut kesiapan pelayanan kesehatan agar masyarakat dapat memperoleh pertolongan ketika mengalami keluhan akibat kondisi udara yang memburuk.
11 Puskesmas Disiagakan, Layanan Kesehatan Diperkuat
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, menyampaikan bahwa jajarannya telah menyiapkan fasilitas pelayanan untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat selama kondisi kabut asap berlangsung.
Sebanyak 11 puskesmas disiagakan, dengan sejumlah fasilitas menerapkan pelayanan selama 24 jam. Selain itu, 43 puskesmas pembantu turut dipersiapkan untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan di wilayah kota.
Dinas Kesehatan juga menyiapkan mobil oksigen keliling guna mendukung pelayanan bagi warga yang membutuhkan bantuan pernapasan. Kehadiran layanan bergerak ini diharapkan memudahkan akses pertolongan, khususnya ketika masyarakat menghadapi kesulitan akibat gangguan kesehatan.
Kesiapan fasilitas kesehatan tersebut menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak karhutla yang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas hidup masyarakat.
Kabut Asap dan Risiko Gangguan Pernapasan
Jumlah 11.276 kasus ISPA yang tercatat sejak Juni hingga 19 Oktober 2026 menjadi perhatian di tengah kondisi karhutla di Palangka Raya.
Meski angka tersebut menunjukkan besarnya beban pelayanan kesehatan, penyebab setiap kasus tidak dapat serta-merta dikaitkan hanya dengan paparan kabut asap. ISPA dapat dipengaruhi berbagai faktor, sehingga penilaian medis tetap diperlukan untuk menentukan kondisi masing-masing pasien.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat diimbau mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan masker yang sesuai untuk menyaring partikel, serta menjaga kelompok rentan agar tidak terpapar udara tercemar secara berlebihan.
Warga yang mengalami sesak napas atau gejala yang semakin berat juga perlu segera mencari pertolongan medis di fasilitas kesehatan terdekat.
Penanganan Tidak Cukup Hanya dengan Layanan Medis
Penguatan layanan kesehatan menjadi langkah penting untuk menangani dampak yang telah muncul. Namun, upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan pencegahan dan penanggulangan karhutla sebagai sumber utama kabut asap dalam situasi ini.
Pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi kepada masyarakat, percepatan penanganan titik kebakaran, serta koordinasi antarlembaga diperlukan agar risiko kesehatan dapat ditekan.
Pemerintah daerah juga perlu memastikan informasi mengenai lokasi layanan kesehatan, ketersediaan bantuan oksigen, dan prosedur memperoleh pertolongan tersampaikan dengan jelas kepada masyarakat.
Angka kasus ISPA yang mencapai 11.276 menjadi pengingat bahwa dampak karhutla dapat meluas hingga sektor kesehatan. Karena itu, keberhasilan penanganan tidak hanya bergantung pada kesiapan fasilitas medis, tetapi juga pada efektivitas pengendalian kebakaran dan perlindungan warga dari paparan asap.
Di tengah kondisi tersebut, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas, sementara penanganan karhutla perlu terus diperkuat agar dampaknya terhadap kesehatan dan aktivitas warga Palangka Raya dapat diminimalkan. (AK)










