PRADANA MEDIA

JUJUR, TEPAT DAN TERPERCAYA

LOKAL SOSIAL BUDAYA

KALTENG DI AMBANG KRISIS AIR: SUNGAI MULAI SURUT, AIR TAK BOLEH MENUNGGU HABIS

Bagikan Berita

PALANGKA RAYA l PRADANAMEDIA — Kalimantan Tengah tidak hanya sedang berhadapan dengan ancaman karhutla dan kabut asap. Di balik persoalan itu, muncul ancaman lain yang jauh lebih mendasar: ketersediaan air.Air adalah penopang kehidupan. Rumah tangga membutuhkannya untuk minum, memasak dan sanitasi. Petani membutuhkan air untuk mempertahankan produksi. Industri membutuhkan air untuk beroperasi. Bahkan ketika karhutla meluas, air menjadi senjata utama untuk memadamkan api.Masalahnya, ketika musim kemarau berkepanjangan datang, sumber air mulai mengalami tekanan.

Sejumlah laporan terbaru menunjukkan kondisi sungai di kawasan Kalimantan mulai surut. Di Seruyan, pemerintah daerah bahkan meningkatkan status penanganan menjadi tanggap darurat karhutla dan kekeringan di tengah meningkatnya frekuensi kebakaran dan kemarau. Kondisi sungai yang surut juga meningkatkan risiko kesulitan air baku dan tingginya kadar garam di wilayah tertentu.

SUNGAI BUKAN SEKADAR ALIRAN AIR

Kalteng memiliki sejumlah sungai besar seperti Barito, Kapuas dan Kahayan, yang menjadi bagian penting dari sistem kehidupan masyarakat. Pemerintah Provinsi Kalteng mencatat sungai-sungai utama tersebut membentang dari wilayah hulu hingga kawasan hilir dan sangat dipengaruhi dinamika musim.

Di wilayah Mentaya-Katingan saja, terdapat Sungai Mentaya dengan panjang sekitar 400 kilometer dan Sungai Katingan sekitar 620 kilometer. Keduanya menjadi bagian dari wilayah sungai strategis nasional yang membutuhkan pengelolaan sumber daya air secara terencana.

Karena itu, ketika debit sungai mulai turun, persoalannya bukan sekadar sungai terlihat dangkal.Yang ikut terancam adalah rantai kehidupan masyarakat yang bergantung pada air tersebut.

GAMBUT SEHARUSNYA MENJADI PENYANGGA AIR

Kalteng juga memiliki kawasan gambut yang sangat luas. Dokumen pemerintah daerah menyebut kawasan gambut Kalteng mencapai sekitar 3 juta hektare, dengan kandungan gambut sekitar 6,3 gigaton. Ekosistem tersebut memiliki fungsi penting sebagai sumber air sekaligus penyangga lingkungan.

Namun ketika gambut mengalami pengeringan, persoalannya menjadi berlipat.Lahan yang kehilangan kelembapan lebih mudah terbakar. Ketika api masuk ke lapisan gambut, pemadaman membutuhkan pembasahan terus-menerus. Pada saat yang sama, kebutuhan air masyarakat tetap berjalan.Di sinilah ancaman karhutla dan krisis air bertemu.Api membutuhkan air untuk dipadamkan. Masyarakat membutuhkan air untuk bertahan hidup.

JANGAN MENUNGGU KRISIS AIR MENJADI BENCANA

Pemerintah tidak cukup hanya bergerak ketika sumur warga mulai mengering atau sungai sudah tidak mampu menjadi sumber air baku.Langkah antisipasi harus dilakukan sejak sekarang.

Pertama, petakan sumber air secara berkala. Debit sungai, embung, sumur, mata air dan sumber air alternatif harus dipantau sehingga pemerintah mengetahui wilayah mana yang mulai memasuki kondisi kritis.

Kedua, perbanyak dan rawat sumur bor serta embung, khususnya di kawasan yang berulang kali mengalami karhutla dan kekeringan.

Ketiga, lindungi kawasan gambut dan daerah tangkapan air. Pencegahan kebakaran tidak boleh hanya dipandang sebagai upaya mengurangi asap, tetapi juga sebagai upaya mempertahankan cadangan air.

Keempat, siapkan distribusi air bersih sebelum kondisi darurat. Tangki air, armada distribusi dan titik pengisian harus dipetakan sejak awal sehingga bantuan tidak baru bergerak ketika masyarakat sudah kesulitan mendapatkan air.

Kelima, pemerintah perlu menggunakan neraca air sebagai dasar pengambilan keputusan. Kementerian PU sendiri memiliki sistem yang memetakan ketersediaan dan kebutuhan air, termasuk kebutuhan rumah tangga, perkotaan, industri, irigasi dan lingkungan.

Keenam, perusahaan yang memiliki sumber daya dan berada di wilayah rawan kekeringan maupun karhutla perlu dilibatkan dalam penyediaan sarana air, pemadaman, pemantauan sumber air dan dukungan distribusi kepada masyarakat. BPBD Kotawaringin Timur sebelumnya juga telah meminta perusahaan besar membantu mengatasi kesulitan air bersih sekaligus karhutla.

KRISIS AIR TIDAK DATANG TIBA-TIBA

Krisis air biasanya tidak muncul dalam satu malam.Ia dimulai dari debit sungai yang perlahan turun. Sumur yang semakin dalam. Embung yang menyusut. Lahan gambut yang mengering. Kemudian kebutuhan air meningkat sementara pasokan semakin terbatas.

Ketika semua indikator itu sudah terlihat, pertanyaannya bukan lagi apakah Kalteng akan mengalami tekanan air, tetapi seberapa siap pemerintah menghadapinya.

Karena itu, menjaga air harus ditempatkan sejajar dengan penanganan karhutla.Jangan sampai Kalteng sibuk memadamkan api, tetapi terlambat menyadari bahwa sumber air untuk memadamkan api sekaligus menopang kehidupan masyarakat mulai menghilang.

Air harus dijaga sebelum habis. Sungai harus dilindungi sebelum kering. Dan krisis harus diantisipasi sebelum warga benar-benar kehilangan sumber kehidupan.


Bagikan Berita

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *