PRADANA MEDIA

JUJUR, TEPAT DAN TERPERCAYA

NASIONAL PEMERINTAHAN

GEMURUH WISISI DI MULIA: BUPATI YUNI WONDA TEGASKAN BUDAYA PAPUA TAK BOLEH HILANG DITELAN ZAMAN.

Bagikan Berita

MULIA, PUNCAK JAYA, PRADANAMEDIA — Dentuman tifa dan hentakan langkah kaki menggema di Mulia. Di tengah semarak peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kabupaten Puncak Jaya tidak hanya merayakan kemerdekaan dengan perlombaan dan kemeriahan, tetapi juga mengangkat kembali denyut budaya lokal melalui lomba Wisisi.

Bagi Bupati Puncak Jaya, Dr. Yuni Wonda, S.Sos., S.IP., M.M., kemerdekaan tidak cukup hanya diperingati dengan upacara dan seremonial. Kemerdekaan juga harus diisi dengan menjaga identitas, merawat kebudayaan dan memastikan warisan leluhur tetap hidup di tengah generasi muda.

Lomba Wisisi menjadi salah satu ruang untuk itu. Pemerintah Kabupaten Puncak Jaya mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak malu dengan budaya sendiri. Sebaliknya, budaya lokal harus menjadi kebanggaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pemkab Puncak Jaya sendiri menempatkan Wisisi sebagai bagian dari rangkaian kegiatan HUT RI ke-81.

Budaya bukan sekadar tontonan. Budaya adalah identitas.Pesan itulah yang terasa kuat dari semarak Wisisi di Mulia. Ketika irama tradisional bertemu dengan semangat anak-anak muda, ada pesan yang jauh lebih besar dari sekadar sebuah perlombaan: bahwa pembangunan daerah tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar budayanya.

Yuni Wonda mendorong agar antusiasme masyarakat terhadap Wisisi terus tumbuh. Menurutnya, pelestarian budaya harus dilakukan bersama-sama. Pemerintah membuka ruang, sementara masyarakat menjadi kekuatan utama yang menjaga agar tradisi tetap hidup.

Langkah ini sejalan dengan arah peringatan HUT RI ke-81 di Puncak Jaya yang tidak hanya mengedepankan kemeriahan, tetapi juga persatuan, kreativitas dan partisipasi masyarakat. Berbagai kegiatan olahraga, seni dan permainan rakyat disiapkan untuk melibatkan masyarakat secara luas.Di sinilah makna kemerdekaan menjadi lebih terasa.

Kemerdekaan bukan alasan untuk melupakan masa lalu. Justru kemerdekaan memberi ruang bagi setiap daerah untuk berdiri dengan identitasnya sendiri.Wisisi menjadi salah satu simbol bahwa Puncak Jaya memiliki kekayaan budaya yang patut dijaga. Generasi muda harus menjadi pewaris, bukan sekadar penonton. Mereka harus mengenal budaya leluhur, mempraktikkannya, sekaligus membawanya ke ruang yang lebih luas tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya.

Bupati Yuni Wonda juga menginginkan momentum HUT RI ke-81 menjadi energi baru bagi masyarakat Puncak Jaya. Semangat kemerdekaan harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui persatuan, kerja keras, kreativitas, prestasi dan pengabdian bagi daerah.

Sebab, perjuangan hari ini bukan lagi mengangkat senjata melawan penjajah. Perjuangan generasi sekarang adalah menjaga persatuan, membangun daerah, meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memastikan budaya lokal tidak tergerus perubahan zaman.

Tifa boleh bergemuruh. Langkah kaki boleh menghentak. Tetapi pesan yang harus tinggal jauh lebih dalam: Puncak Jaya boleh bergerak maju, tetapi tidak boleh kehilangan jati dirinya.

Dari Mulia, Wisisi kembali berbicara. Ia membawa pesan sederhana namun kuat: rawat budaya, hormati warisan leluhur, rangkul generasi muda dan jadikan kemerdekaan sebagai momentum untuk membangun daerah dengan identitas yang tetap kokoh.

Karena ketika sebuah generasi berhenti mengenal budayanya, yang hilang bukan hanya sebuah tarian.Yang hilang adalah bagian dari jati diri.Dan Puncak Jaya hari ini memilih untuk tidak membiarkan itu terjadi (AK)


Bagikan Berita

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *