
Tamiyang Layang, Pradanamedia – Menjelang peringatan Hari Buruh, organisasi kemasyarakatan di Barito Timur mulai mengambil posisi. Salah satunya datang dari DPD TBBR setempat yang menegaskan komitmennya menjaga situasi tetap kondusif.
Ketua DPD TBBR Barito Timur, Sande alias Pijun, menyampaikan bahwa pihaknya akan ikut mengawal jalannya May Day agar berlangsung aman tanpa gangguan. Namun, lebih dari itu, ia memberi sinyal bahwa ada kewaspadaan terhadap potensi agenda tersembunyi yang bisa merusak semangat kebersamaan.
Menurutnya, solidaritas pekerja harus berdiri di atas keberagaman, bukan justru dimanfaatkan untuk menyusupkan paham yang bertentangan dengan nilai persatuan. Ia menegaskan, ruang publik tidak boleh dijadikan panggung bagi narasi radikal maupun sikap intoleran.
“Momentum ini harus tetap bersih dari kepentingan yang bisa memecah belah. Kita ingin May Day berjalan damai, tanpa ditarik ke arah yang berbahaya bagi persatuan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa menjaga stabilitas bukan hanya tugas aparat, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama, termasuk organisasi masyarakat. Dalam konteks itu, TBBR menyatakan siap berada di garis depan untuk memastikan peringatan Hari Buruh tetap dalam koridor aman.
Pernyataan ini memperlihatkan bahwa dinamika May Day di daerah tidak lagi sekadar soal tuntutan buruh, tetapi juga menyangkut bagaimana berbagai elemen ikut menjaga ruang sosial tetap stabil di tengah meningkatnya sensitivitas isu ideologi.
Di sisi lain, langkah TBBR ini juga dibaca sebagai upaya preventif menghadapi potensi polarisasi yang kerap muncul dalam momentum massa besar. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan, peringatan May Day tidak jarang dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyisipkan agenda di luar kepentingan buruh.
Karena itu, pendekatan pengawalan yang dikedepankan bukan semata soal keamanan fisik di lapangan, tetapi juga penguatan narasi publik agar tetap sejalan dengan semangat persatuan. TBBR menilai, menjaga ruang informasi tetap sehat menjadi bagian penting dalam memastikan situasi tetap kondusif.
Selain itu, komunikasi lintas elemen—mulai dari buruh, ormas, hingga aparat—dinilai menjadi kunci untuk meredam potensi gesekan sejak dini. Koordinasi ini diharapkan mampu meminimalisir kesalahpahaman yang bisa berkembang menjadi konflik terbuka.
Dengan pendekatan tersebut, TBBR Bartim ingin memastikan bahwa semangat solidaritas pekerja tetap hidup, tanpa harus dibayangi potensi konflik yang tidak perlu. May Day pun diharapkan tidak hanya menjadi simbol perjuangan, tetapi juga cerminan kedewasaan sosial dalam menjaga harmoni di tengah perbedaan. (AK)






