PRADANA MEDIA

JUJUR, TEPAT DAN TERPERCAYA

NASIONAL OLAHRAGA

“Dari Kursi Gubernur ke Papan Catur Nasional: Agustiar Sabran Kunci Percasi, Sinyal Konsolidasi Kekuatan?”

Bagikan Berita

Jakarta, Pradanamedia – Jalan menuju kursi puncak PB Percasi akhirnya tak lagi menyisakan teka-teki. Agustiar Sabran resmi mengunci posisi Ketua Umum periode 2026–2030—bukan lewat pertarungan sengit, melainkan lewat gelombang dukungan yang nyaris bulat.

Dalam forum Munas Percasi 2026 di Jakarta, peta kekuatan sudah terbaca sejak awal. Dari 33 pengurus provinsi yang hadir, 32 di antaranya memberi mandat. Ini bukan sekadar kemenangan—ini aklamasi yang dibungkus formalitas. 

Namun justru di titik itulah pertanyaan mulai muncul: apakah ini cermin soliditas, atau sinyal minimnya kompetisi?

Transisi Sunyi, Minim Gesekan

Pergantian tongkat estafet dari Utut Adianto ke Agustiar terjadi tanpa riak berarti. Setelah dua periode memimpin sejak 2018, era Utut berakhir nyaris tanpa duel terbuka.

Padahal, dalam organisasi olahraga nasional, dinamika biasanya keras—lobi, tarik-menarik kepentingan, hingga kontestasi gagasan. Kali ini? Hampir nihil.

Nama Agustiar bahkan sudah “dikunci” jauh sebelum forum digelar. Dukungan daerah mengerucut cepat, seolah Munas hanya tinggal mengetuk palu. 

Figur Lama dalam Wajah Baru

Agustiar bukan pemain baru. Ia lama berkecimpung di dunia catur, dari level pembinaan hingga menjabat Ketua Harian Percasi. Kombinasi pengalaman teknis dan posisi politik sebagai gubernur menjadi paket lengkap yang sulit ditandingi.

Di satu sisi, ini keuntungan: jaringan luas, akses sumber daya, dan kemampuan mendorong pembinaan secara struktural.

Namun di sisi lain, publik berhak bertanya:

apakah Percasi kini dipimpin oleh “pecatur”, atau oleh “figur politik dengan papan catur”?

Dukungan Besar, Ekspektasi Lebih Besar

Narasi resmi menyebut kemenangan ini sebagai bentuk kepercayaan terhadap rekam jejak dan kontribusi Agustiar dalam membina catur. 

Tapi dukungan masif juga berarti satu hal: ruang alasan untuk gagal makin sempit.

Targetnya tidak ringan—mendorong prestasi catur Indonesia di level internasional, memperkuat regenerasi atlet, dan keluar dari stagnasi prestasi global yang masih tertinggal dari kekuatan besar dunia.

Tantangan Nyata: Prestasi, Bukan Seremoni

Masalah utama Percasi bukan sekadar kepemimpinan, tapi hasil. Indonesia masih kesulitan menembus dominasi negara-negara elite dalam catur dunia.

Munas boleh selesai, jabatan boleh sah. Tapi ujian sesungguhnya baru dimulai:

apakah kepemimpinan ini akan melahirkan grandmaster baru, atau hanya memperpanjang tradisi seremoni tanpa lonjakan prestasi? (AK)


Bagikan Berita

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *