Pradanamedia/Palangka Raya — Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menghadapi dinamika ekonomi yang perlu diantisipasi secara serius. Meningkatnya konsumsi masyarakat pada akhir tahun dinilai dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, namun sekaligus berpotensi memicu tekanan inflasi apabila tidak diimbangi pengelolaan yang tepat. Dikutip dari Wartakalteng (14/12)
Ekonom muda Herman Fland Dakhi, S.E., menilai lonjakan belanja masyarakat merupakan fenomena tahunan yang wajar. Namun, menurutnya, kondisi tersebut harus diiringi dengan kesiapan pasokan serta distribusi barang agar stabilitas harga tetap terjaga.
“Peningkatan konsumsi bisa berdampak positif bagi pergerakan ekonomi daerah. Akan tetapi, tanpa dukungan ketersediaan barang dan distribusi yang lancar, risiko kenaikan harga menjadi sulit dihindari,” kata Herman.
Ia mengingatkan, inflasi yang tidak terkendali berpotensi menggerus daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah. Oleh sebab itu, pemerintah daerah diharapkan tidak bersikap reaktif, melainkan melakukan langkah antisipatif sejak awal.
Herman mendorong Pemprov Kalteng untuk memastikan kecukupan stok bahan pokok serta menjaga kelancaran rantai distribusi, terutama menjelang puncak perayaan Nataru. Selain itu, pengawasan harga di tingkat pasar dinilai perlu diperketat, khususnya pada komoditas strategis yang memiliki kontribusi besar terhadap inflasi.
“Sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah lain juga menjadi kunci untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan maupun gejolak harga,” ujarnya.
Ia berharap, dengan kebijakan yang terukur dan koordinasi lintas sektor yang baik, pemerintah daerah mampu menjaga stabilitas ekonomi sehingga masyarakat dapat merayakan Natal dan Tahun Baru secara aman, nyaman, dan tanpa tekanan ekonomi yang berlebihan.
“Jika dikelola dengan tepat, momentum Nataru justru dapat memberi dampak positif bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Kalimantan Tengah,” pungkasnya.





